Entah sejak kapan hari lahir R.A. Kartini di peringati secara resmi sebagai hari Kartini di Indonesia. Hari Kartini biasanya di rayakan dengan menggelar aneka perlombaan. Tapi tahukah kita siapa sebenarnya Kartini dan apa perannya dulu yang patut teladani sampai saat ini?
R.A. Kartini adalah putri Bupati Jepara, R.M Adipati Ario Sosroningrat. R.A. Kartini adalah sosok wanita yang memiliki cita-cita tinggi baik untuk dirinya dan kaum wanita lainnya. Wanita, pada jaman dulu masih amat sedikit dilibatkan dalam setiap lini kehidupan. Termasuk R.A. Kartini yang hanya bisa mengenyam pendidikan setara SD pada awalnya. Padahal beliau adalah seorang putri bupati. Namun karena kemauannya yang keras untuk maju berada di garis yang sama dengan laki-laki,beliau berhasil melobi sang ayah untuk melanjutkan studi ke Belanda. Disanalah, R.A. Kartini semakin merasakan perbedaan kemajuan yang sangat besar antara wanita Indonesia dengan para wanita di Belanda. R.A. Kartini bertekad memajukan taraf hidup bagi wanita di sekitarnya sekembalinya beliau dari Belanda.
R.A. Kartini membangun sekolah gratis bagi wanita di Jepara dan Rembang. Di sekolah itu, para wanita di bekali ketrampilan menjahit, memasak, dan menyulam. Sebuah ide yang fantastis menurut saya pada era itu. Sekembalinya beliau dariBelanda, beliau tetap menjalin hubungan dengan sahabat-sahabatnya. R.A. Kartini sering berkirim surat pada sahabatnya di Belanda dan menceritakan kondisi wanita di sekitarnya. Kumpulan surat itulah yangkemudian kita kenal dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”
R.A. Kartini meninggal pada usia yang masih sangat muda. 25 tahun. Beliau meninggal pada saat melahirkan putrid pertama beliau.
Dari profil singkat R.A. Kartini yang saya paparkan di atas,menurut saya R.A. Kartini banyak berjasa dalam memberikan sumbangsih pemikiran terhadap bangsa ini. Pemikiran bahwa kaum perempuan juga dapat berkiprah dalam dunia pendidikan, politik, industri, maupun bidang-bidang lain yang masih di dominasi kaum pria. R.A. Kartini mengajak wanita Indonesia untuk berkontribusi pada bangsa sama halnya dengan pria tentunya tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai wanita.
Emansipasi yang selama ini di hembuskan hanya akan sejalan dengan visi-misi R.A. Kartini jika para wanita tidak mengesampingkan kodratnya.
Namun demikian ternyata apa yang R.A. Kartini perjuangkan pada jamannya belum sepenuhnya di apresiasi oleh semua kaum wanita Indonesia . Memperingati hari Kartini yang baru saja di peringati, banyak artikel yang cenderung kurang mengapresiasi perjuangan beliau apalagi bila beliau di sahkan sebagai pahlawan nasional. Alasannya karena R.A. Kartini tidaklangsung berperang melawan penjajah seperti pahlawan wanita lainnya. Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, adalah sedikit nama dari pejuang wanita yang turut memanggul senjata. Padahal menurut saya, kontribusi pemikiran beliau juga tidak kalah penting. Tentunya tanpa mengesampingkan pejuang wanita yang telah ikut dalam medan perang. Wallahu’alam bis shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar